“Semangat Berlembaga di Tengah Pandemi”

Dalam pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM), menentukan bahwa setiap orang berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat yang diselenggarakan untuk maksud-maksud damai.

Landasan tersebut yang menjadikan banyaknya organisasi yang terbentuk dikalangan masyarakat, buruh, mahasiswa hingga pelajar. Setiap organisasi yang ada punya konsep, landasan, ideologi, tujuan, dan pedoman masing-masing. Tak bisa dielakkan, organisasi punya peran penting dalam mengembangkan softskill dan hardskill para anggotanya.

Utamanya mahasiswa, yang punya peran sebagai Agent of Change, Social Control, and Iron Stock, maka lembaga menjadi salah satu wadah untuk mewujudkan peran tersebut.

Maka sudah seharusnya lembaga-lembaga kemahasiswaan terus memperkuat kaderasasi untuk membentuk generasi yang kelak benar-benar akan membawa ‘perubahan’.

Ditengah sibuk-sibuknya para pengurus lembaga kemahasiswaan dalam berproses di kampus, harus diredupkan dengan mewabahnya covid-19 di dunia termasuk Indonesia.

Hal tersebut tak pernah terbayangkan sebelumnya, yang menjadi hambatan sebelumnya para pengurus lembaga kemahasiswa hanyalah dari pihak birokrat kampus yang disinyalir memang berusaha untuk meredupkan bahkan mematikan semangat berlembaga mahasiswa. Semua lembaga dan instansi, baik pemerintahan maupun swasta harus memindahkan kegitannya di rumah. Lembaga kemahasiswaan juga harus menerima kebijakan penutupan kampus dan segala aktivitas dan kegiatan kampus.

Sebagian pengurus lembaga kemahasiswaan akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Namun, mahasiswa yang menganggap punya tanggungjawab yang besar terhadap lembaga, tetap bersikeras, menahan diri tetap berada di kampus, menahan rindu terhadap keluarga. hingga terjadi pembatasan sosial yang ketat, memaksamahasiswa untuk betul-betul mengosongkan kampus. Pada akhirnya beberapa mahasiswa kehilangan semangat berlembaga, dan juga memutuskan untuk kembali ke kampung halaman.

Nampaknya, mahasiswa tak habis akal untuk tetap menjaga semangat, eksistensi lembaga dan tetap produktif meski berada di rumah masing-masing. Dibuatlah konsep yang menyesuaikan dengan keadaan yang ada, seluruh kegiatan-kegiatan lembaga dilaksanakan secara daring. Budaya-budaya diskusi tetap dijalankan, meski tak bertemu secara langsung.

Dengan adanya pandemi Covid-19 ini, juga tak menyurutkan sikap kritis para aktivis kampus. Para birokrasi kampus yang disinyalir melakukan penyelewengan kebijakan tetap mereka kritisi dengan aksi. Mahasiswa menggunakan aksi media sebagai alternatif dalam menyampaikan aspirasi.

Dengan adanya teknologi semakin mudah memassifkan massa, yang notabene para pengurus lembaga yang sedang berada di kampung halaman masing-masing. Semangat para mahasiwa tidak sampai disitu, dengan dikeluarkannya kebijakan New Normal oleh pemerintah, setidaknya memberi peluang untuk kembali memassifkan kegiatan kampus.

Meski secara Nasional, pemerinah belum membolehkan adanya kegiatan proses belajar mengajar di sekolah maupun kampus. Para pengrus lembaga kemahasiswaan mulai berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman, meninggalkan keluarga dan semua zona nyamannya, dan kembali bergelut di lembaga.

Para pengurus lembaga kemahasiswaan kini memulai manata kembali kelembagaan yang tebuka dalam pelaksanaan demokarsi kampus. Memperbanyak diskusi dan merancang konsep yang matang-matang dalam kegiatan kaderasasi, sehingga tidak terjadi fenomena lemabaga yang membutuhkan kader, bukan mahasiswa yang membutuhkan lembaga. Karena sejatinya, dalam mewujudkan tiga peran mahasiswa yang telah dibahas diawal, maka lembagalah tempat yang paling ideal.

Sumber

admin sanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *