Pendapat Mahasiswa Mengenai Kuliah Tatap Muka VS Daring

Bagi mahasiswa baru, dunia kampus pastilah memberikan kesan tersendiri. Selain memiliki kultur dan sistem pendidikan yang berbeda, dunia kampus juga membuka kesempatan untuk menemukan teman baru, tempat baru, juga pengalaman baru.

Sebagian mahasiswa baru mungkin sudah mantap untuk menghadapi perubahan tersebut. Akan tetapi tak sedikit masih berdebar-debar untuk menghadapinya. Pasalnya, kuliah berarti memasuki simulasi kehidupan yang berbeda.

Mahasiswa dituntut lebih banyak bersosialisasi, bahkan tak jarang masuk dalam “politik kampus”. Ya, berbagai jenis manusia dari berbagai latar kehidupan, kebiasaan, juga pandangan politik. Terlebih lagi, kampus menyediakan waktu bagi mahasiswa mengaktualisasikan diri.

Kini, semua tak lagi sama. Pandemi Covid-19 telah menjungkirbalikkan pola hidup masyarakat dunia. Hampir semua aktivitas harus dilakukan secara online, tak terkecuali perkuliahan.

Upaya pemutusan rantai penyebaran Covid-19 memang membutuhkan keseriusan dan kerja sama banyak pihak. Oleh karena itu, sejak pemerintah menerapkan kebijakan pembelajaran jarak jauh, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pun menerapkan sistem belajar daring sejak 17 Maret 2020 lalu.

Tak dimungkiri, kuliah daring tentunya berdampak langsung terhadap civitas akademika kampus, baik itu tenaga pendidik, kepegawaian, hingga mahasiswa.

Banyak pengalaman terjadi selama perkuliahan daring. Di sini, para mahasiswa akan membagikan beberapa pengalaman yang mereka hadapi selama perkuliahan semester sebelumnya.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, universitas memiliki potensi untuk mengadopsi pembelajaran jarak jauh dengan lebih mudah ketimbang pendidikan menengah dan dasar.

Untuk mata kuliah yang tidak dapat dilaksanakan secara daring, Nadiem menyarankan untuk meletakkannya di bagian akhir semester. Terkecuali untuk sejumlah aktivitas prioritas yang memengaruhi kelulusan mahasiswa, maka pemimpin perguruan tinggi boleh mengizinkan mahasiswa untuk datang ke kampus.

Beda rasa kuliah daring

Satu tahun ini semua kegiatan perkuliahan dilakukan secara daring yang dalam pelaksanaannya terdapat kekurangan dan kelebihan.

Bagi mahasiswa, kelebihan yang paling terasa ialah bisa melakukan kuliah sambil mencuri-curi waktu dengan aktivitas lain seperti bekerja. Tapi tentu saja mereka harus menerima konsekuensinya, yakni pintar-pintar membagi waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada.

Walaupun sekarang ini sebagian mahasiswa seakan sudah terbiasa bahkan nyaman dengan kuliah daring, tetap saja rasanya sangat bosan bila terlalu lama melakukan segala sesuatu di rumah saja.

Kuliah offline atau tatap muka akan selalu menjadi pilihan yang tepat karena dari segi penyampaian materi kuliah pun lebih mudah dipahami, tanpa gangguan lain seperti saat kuliah online.

Sementara itu, problem yang paling sering dihadapi saat kuliah online ialah sinyal yang tidak stabil, tidak memiliki kuota yang cukup banyak, atau rasa kantuk yang seringkali menghampiri.

Saat kuliah tatap muka, bersosialisasi dengan banyak orang bisa meredakan perasaan jenuh dan lelah karena tugas yang menumpuk. Mahasiswa juga bisa saling bertukar informasi dan berbagai cerita sehingga secara tidak langsung membantu mengembalikan semangat.

“Menurut saya ya perbedaannya hanya terletak di letak interaksinya doang ya, yang memang dulu kuliah tatap muka itu selepas kami belajar kami bisa berdiskusi langsung dengan temen di kelas, kalo kuliah online lebih ke arah menjadikan generasi text books, yang apa-apa mencari taunya melalui Google,” kata Edward, mahasiswa semester lima di UMJ.

Dia juga berpendapat untuk ukuran efektivitas belajar, kuliah online dan offline sama saja, tergantung dari mahasiswa yang bersangkutan. Sebab, lanjut Edward, yang membedakan hanya lokasi si dosen dan mahasiswa.

“Untuk pemahaman saya rasa sangat jelas ya, intinya balik lagi ke pribadinya mau mendengarkan apa tidak, mau interaktif atau tidak. Walaupun satu sisi ada kawan-kawan daerah yang berbicara kuliah online ini tidak efektif karena daerah mereka jauh dari kata sinyal bagus. Itu yang menyebabkan terkendalanya mereka,” ujar dia.

Peran pengajar

Dalam dunia pendidikan, guru disebut sebagai “power of education” atau “kekuatan dari edukasi”. Para guru tidak hanya berdiri di depan kelas dan mengajarkan materi kepada murid-muridnya, mereka juga membuka kesempatan untuk berkomunikasi secara dua arah agar kelas menjadi lebih interaktif.

Guru juga perlu selalu hadir sebagai pendukung, pemecah masalah hingga tokoh panutan yang dapat memotivasi murid-murid untuk mengembangkan diri mereka menjadi lebih baik lagi.

Kehadiran guru yang menjaga interaksinya dengan siswa-siswinya merupakan satu hal yang tidak dapat tergantikan dalam dunia belajar mengajar. Seorang siswa dapat membaca buku, menonton video, atau mendengar siaran radio untuk mendapatkan ilmu baru.

Lain halnya dengan proses belajar. Kehadiran guru sangat vital agar transfer ilmu dapat berjalan maksimal. Guru yang mampu berkomunikasi akan membuka gagasan-gagasan baru selama proses mengajar sehingga memperdalam ilmu yang didapatkan.

Perkuliahan online maupun offline memang jelas memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Namun di saat kasus Covid-19 belum mereda, opsi perkuliahan online belum bisa dihindari. Yang bisa kita lakukan adalah tetap menerapkan protokol kesehatan dan tak berhenti berdoa agar virus Corona segera hilang sehingga semua aktivitas dapat kembali normal. Kuliah tatap muka pun bisa kembali dirasakan oleh para mahasiswa.

Sumber

admin sanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *