“Media Sosialmu Bukanlah Milikmu”

Pada masa kini, media sosial telah menjadi sebuah alat komunikasi paling mutakhir. Hal ini dikarenakan banyaknya kegunaan serta fungsi yang sangat bermanfaat seperti, untuk menyampaikan pesan dan menerima feedback dengan cepat, untuk membuat sebuah konten, untuk mencari informasi, serta dapat digunakan untuk mencari hiburan.

Hari demi hari media sosial telah menjadi sebuah kebiasaan yang tidak bisa lepas dari kegiatan sehari – hari. Hampir setiap orang menggunakan media sosial mereka dalam menemani aktifitas mereka. Media sosial memang sangat bermanfaat tetapi, menjadikan media sosial sebagai aktifitas rutin tentu saja tidak bagus. Karena hal tersebut dapat menyebabkan ketergantungan kepada pengguna media sosial. 

Banyak orang menggunakan sosial media sebagai aktifitas utama mereka bahkan banyak orang yang rela menghabiskan waktu mereka berjam – jam hanya untuk menggunakan media sosial sehingga, hal ini dapat berdampak pada kehidupan sosial mereka. Manusia pada dasarnya makhluk sosial sehingga perlu untuk bersosialisasi, tetapi hal tersebut dapat tergantikan oleh media sosial mereka. 

Dalam sebuah film dokumenter yang berjudul “The Social Dilemma” menjelaskan beberapa hal tentang dampak negatif dari penggunaan media sosial serta sisi gelap dari media sosial itu sendiri. Untuk penjelasan mengenai film ini, yaitu sebuah film dokumenter yang dirilis tahun 2020 di Netflix. Pada film yang disutradarai oleh Jeff Orlowski ini, menceritakan tentang dampak buruk dari media sosial serta bagaimana teknologi tersebut dampak merusak ekosistem kita. Film ini, menghadirkan beberapa ahli dalam bidang tersebut sebagai narasumbernya sehingga dapat memberikan informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pada awal film ini menjelaskan tentang bagaimana manusia yang merupakan pengguna dari media sosial adalah sebuah produk dari media sosial itu sendiri. Selain itu, media sosial dibuat dan dirancang khusus untuk membuat manusia merasa terus menerus membutuhkannya, atau bisa diartikan bahwa media sosial dirancang khusus untuk membuat manusia kecanduan untuk terus menggunakan media sosial.Dalam film dokumenter tersebut juga menjelaskan beberapa hal mengenai dampak buruk yang dapat menimbulkan kehancuran bagi manusia.

 

Media sosial berpotensi menjadi tempat untuk menyebarkan propaganda dan berita palsu (HOAX). Pada saat ini, penyebaran informasi palsu sedang marak – maraknya terjadi, itu terjadi dikarenakan media sosial merupakan platform yang dapat membuat penggunanya dapat menyebarkan sebuah konten sehingga, tidak sedikit orang yang membuat konten untuk menyebarkan informasi palsu. Hal tersebut tentunya digunakan untuk kepentingan pribadi semata. Dampak buruk dari penyebaran informasi palsu ini, yaitu dapat memanipulasi persepsi dari publik untuk mendukung pernyataan bohong penyebar hoax tersebut yang tentunya demi keuntungan si penyebar berita palsu tersebut. Seperti contoh kasus HOAX yang sempat viral di Indonesia yaitu kasus Audrey yang terjadi pada tahun 2019 lalu. Dalam kesaksiannya di media sosial Audrey mengaku sebagai korban kekejaman yang dilakukan oleh 12 pelaku pembullyan. Tentunya hal tersebut menjadi ambigu lantaran kesaksian yang diberikan oleh Audrey tidak selaras sehingga banyak orang yang bersimpati pada Audrey merasa tertipu dikarenakan kesaksiannya yang diunggah di media sosial semata – mata hanya untuk membuat persepsi publik untuk mendukungnya. Selain itu, ada pula kasus yang sempat menghebohkan dunia yaitu kiamat 2012 yang akhirnya membuat hampir seluruh orang panik bahkan ada yang mempersiapkan diri sebelum kehancuran dunia yang fakta sesungguhnya hal tersebut tidak terjadi.

Dalam melawan hoax pemerintah dapat membuat regulasi untuk menekan persebaran dari konten hoax yang telah menyebar, sehingga jumlah hoax dapat berkurang. Selain itu, masyarakat juga dapat mendukung pemerintah dengan meningkatkan minat terhadap literasi serta tidak menelan informasi secara mentah – mentah tetapi dicari terlebih dahulu sumber dari informasi tersebut serta valid tidak nya informasi itu, dengan begitu jumlah hoax yang tersebar dapat ditekan.

Selanjutnya merupakan dampak buruk dari media sosial yang lain yaitu, media sosial memanfaatkan perhatian publik untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini tentunya terjadi karena, media sosial dapat memantau aktifitas dari penggunaannya, seperti apa yang dilihat pengguna apa yang dicari pengguna, serta apa yang disukai pengguna. Sehingga, media sosial mengetahui kegiatan kita dalam menggunakan media sosial.

Sama seperti pengguna yang memanfaatkan media sosial untuk mencari keuntungan media juga ikut mencari keuntungan dari memanfaatkan pengguna. Lalu apa yang digunakan media sosial setelah mendapatkan data aktifitas kita di media sosial? Mereka akan menjualnya kepada para pemasang iklan. Dengan melakukan hal tersebut tentunya pihak media sosial dapat memanfaatkan pengguna media sosial untuk mencari keuntungan. Bagaimana sistem pengambilan data aktifitas dari pengguna media sosial? Jadi mereka mengambil data dari pengguna media sosial yang kemudian dijual kepada pemasang iklan disesuaikan dengan iklan sehingga, iklan yang ditawarkan dengan target pembeli lebih terarah. Sebagai contoh, kita menggunakan media sosial secara terus menerus, lalu data aktifitas kita dalam penggunaan media sosial diambil dan dijual kepada pengiklan yang sesuai dengan produk iklan mereka, jika dalam sudut pandang pengguna media sosial, semisal aktifitas pengguna yaitu menonton acara memasak, maka media sosial akan secara otomatis menampilkan iklan sesuai dengan pengguna seperti iklan blender, atau alat memasak. Memang media sosial tidak menerima sepeserpun uang dari penggunanya tetapi, mereka mengambil data aktifitas pengguna untuk membuat keuntungan, seperti kata salah satu narasumber di film dokumenter The Social Dilemma yaitu, Tristan Harris seorang mantan pakar etika dan desain Google “If you’re not paying the product, then you’re the product.”

Media sosial tidak hanya mengambil aktifitas kita sebagai produk mereka, tetapi mereka juga dapat memantau dan merekam setiap kegiatan yang kita lakukan di media sosial seperti mengunggah sebuah postingan, mengomentari sebuah postingan maupun menghitung dan memperkirakan data diri pengguna menggunakan algoritma dalam media sosial, seperti kesukaan, sifat, serta karakter pengguna. Dengan demikian mereka dapat terus mengawasi pengguna agar selalu menggunakan media sosial dan agar pengguna tidak berhenti menggunakannya.

Dengan perhitungan dari algoritma media sosial, pengguna dapat dikendalikan agar menjadi kecanduan terhadap media sosial. Segala sesuatu yang membuat penggunanya nyaman telah diperhitungkan dalam algoritma tersebut. Seperti menyesuaikan postingan atau informasi sesuai dengan yang disukai oleh pengguna, membuat icon dan desain yang menarik dari aplikasi, membuat pilihan dalam menu tema aplikasi, hingga hal seperti fungsi dan fitur yang menguntungkan pengguna agar penggunanya tetap nyaman dalam menggunakan aplikasi tersebut. Selain itu, media sosial juga mengatur agar selalu memberikan sesuatu yang sedang viral terhadap khalayak membuat pengguna merasa setiap waktu itu akan menjadi penting untuk terus mengikuti alur trend dalam media sosial. Dengan begitu pengguna media sosial akan terus menggunakan media sosial sampai menjadi kecanduan dan bahkan rela untuk menghabiskan waktu berjam – jam hanya untuk berselancar di media sosial.

Secara tidak sadar media sosial telah banyak membawa dampak buruk kepada penggunanya baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Pada masa ini, media sosial memiliki banyak jenis media sosial yang berbeda – beda mulai dari Facebook, Google, Twitter, Tiktok, Instagram, dan lain sebagainya. Meskipun jenis dalam media sosial ada banyak tetapi banyak dalam algoritma media sosial juga dapat mengatur agar pengguna tetap tidak lepas dari penggunaan media sosial, yaitu dengan cara memberikan konten – konten yang disukai oleh pengguna. Selain itu, jika pengguna bosen dengan satu platform media sosial maka media sosial lain dapat memberikan adiktif dengan memberikan konten yang menarik di platform media sosial yang lain. Contohnya seperti seorang pengguna media sosial menggunakan Tiktok untuk mencari hiburan, lalu saat pengguna tersebut bosan, secara tak langsung logaritma yang berada dalam media sosial tersebut memberikan konten yang menarik di media sosial yang lainnya sehingga ketika pengguna secara tak sengaja membuka instagram maka konten yang menarik akan muncul terlebih dahulu sehingga, pengguna akan menikmati konten di Instagram sampai bosan lagi, lalu kembali memberikan konten menarik di platform media sosial yang lain, dan terus terulang seperti lingkaran setan.

Setelah mengalami logaritma dari media sosial tentunya dapat berdampak buruk bagi pengguna media sosial, khususnya mental pengguna. Dalam penggunaan media sosial sudah seharusnya porsi dalam penggunaanya dikurangi, hal tersebut karena efek samping dari kecanduan yang ditimbulkan akibat dari logaritma dalam media sosial dapat memicu gangguan mental serta stress akibat terlalu sering didepan layar. Di zaman sekarang hampir semua orang menggunakan smartphone sebagai alat komunikasi mereka. Smartphone tentunya merupakan alat yang dapat menginstal aplikasi media sosial. Dengan penggunaan smartphone dapat memudahkan pengguna media sosial untuk terus menggunakannya dimana pun dan kapan pun, tentu saja ini lah yang menjadi pemicu setiap orang menjadi lebih mudah untuk kecanduan terhadap media sosial. Lalu apakah yang membuat hal tersebut dapat berdampak buruk terhadap mental? Media sosial tentunya dapat bersifat membuat kecanduan dalam menggunakannya, kecanduan tersebut dapat membuat mental seseorang menjadi lebih lemah, terutama pada pengguna yang masih remaja.

Pada usia remaja adalah masa saat orang baru mengalami pubertas, pada masa itu mereka cenderung untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, sehingga membuat mereka menjadi lebih mudah sedih dan mental down. Lalu apa hubungannya dengan penggunaan media sosial? Media sosial menjadi perantara dalam hal tersebut. Media sosial membuat para remaja membandingkan dirinya dengan orang lain yang mereka lihat di media sosial mereka. Mereka membandingkan segala hal yang ada di dalam diri mereka dengan orang lain, mulai dari finansial mereka, gaya hidup mereka, wajah mereka, hingga bentuk tubuh mereka. Pada usia remaja ini tentunya, mereka akan lebih rentan terkena gangguan dalam mental mereka. Mulai dari stress, sering sakit, gangguan jiwa, hingga yang paling parah mereka nekat untuk melakukan bunuh diri.

Di Indonesia sendiri data dari kemenkes mencatat pada hasil survey dari 10.837 responden remaja ada sekitar 4,3 % dari yang laki – laki ingin melakukan bunuh diri sedangkan yang perempuan sekitar 5,9 % yang ingin melakukan bunuh diri. Hal tersebut tentunya tidaklah baik – baik saja, karena remaja merupakan penerus bangsa sehingga, perlunya edukasi kepada para remaja menjadi kunci utama untuk mengetahui bahaya nya kecanduan media sosial, terutama edukasi mengenai bahaya dari algoritma yang ada pada media sosial

Pada dasarnya algoritma dalam media sosial diciptakan untuk mencapai keuntungan perusahaan. Algoritma akan terus berjalan sebagaimana penggunaan media sosial yang terus meningkat. Algoritma akan memperhitungkan semua hal yang berkemungkinan mengenai apa yang disukai oleh media, selama pengguna tetap menjalankan media sosial, algoritma akan terus menyesuaikan apa yang disukai oleh pengguna. Seperti kata Shoshana Zuboff yaitu seorang Profesor dari Harvard Business School sekaligus narasumber pada film The Social Dilemma “The sell certainty”. Media sosial sudah seharusnya hanya menjadi sebuah alat dalam berkomunikasi tidak seharusnya sebuah alat dapat mengendalikan penggunanya, tentu saja hal ini akan sangat berbahaya jika disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

Sumber

admin sanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *