Mahasiswa Dilema Tentang Kuliah Offline Harus Adaptasi

Hampir dua tahun, pandemi COVID-19 membelenggu Indonesia. Selama hampir dua tahun pula, segala aktivitas dan kegiatan dibatasi dan dialihkan dengan berbagai alternatif, salah satunya secara online. Berbagai istilah dan kebijakan baru pun terus bermunculan, seperti lockdown, Work from Home, luring, daring, New Normal, PPKM dan masih banyak lagi.

Awalnya, kita pasti merasa asing dengan perubahan tersebut. Cukup sulit juga untuk beradaptasi dengan situasi baru yang belum pernah dialami sebelumnya. Hal-hal yang biasa kita lakukan secara langsung atau tatap muka, berubah menjadi tatap maya. Yang biasanya suka berkumpul sekedar menghabiskan waktu luang bersama teman, hangout, liburan, dan lain sebagainya, terpaksa harus berdiam diri di rumah semenjak pandemi ini. Semuanya berubah menjadi serba online. Mulai dari sekolah, kuliah, kerja, belanja, bahkan olahraga juga online.

Sebagai mahasiswa, kuliah online sangat menyiksa. Tugas menumpuk, materi sulit dipahami, kurang fokus, minat belajar menurun, mengantuk, terlebih rasa malas semakin bertambah. Belum lagi hambatan-hambatan lain yang sering dialami oleh mahasiswa terutama yang tinggal di daerah. Sinyal kurang mendukung, teknologi kurang memadai, boros kuota, hingga dilema biaya kuliah yang tetap dibayar meskipun perkuliahan berlangsung secara online. Itulah keluhan sebagian besar mahasiswa ketika kegiatan perkuliahan dialihkan menjadi kuliah online pada awal pandemi.

Namun, seiring berjalannya waktu hambatan-hambatan tersebut sedikit demi sedikit dapat diatasi. Bantuan kuota dan keringanan biaya kuliah diberikan oleh kampus kepada mahasiswa selama kuliah online ini. Mahasiswa pun merasa diringankan bebannya karena bantuan-bantuan tersebut, di samping beban perkuliahan.

Perkuliahan terus berlangsung secara online, dan mahasiswa mulai terbiasa dengan pandemi ini. Meskipun pada awalnya banyak sekali keluhan, namun sekarang banyak yang mulai merasakan sisi positif dari kuliah online.

Mulai 6 Desember 2020 lalu, Indonesia telah menerima vaksin tahap ke-1 dan kemudian mulai gencar melaksanakan vaksinasi pada tahun 2021. Vaksinasi ini dilakukan guna mencegah penyebaran virus COVID-19 di Indonesia. Adanya vaksin ini juga menjadi sebuah harapan bagi seluruh masyarakat Indonesia maupun di dunia agar pandemi ini lekas berakhir.

Hingga saat ini, Indonesia telah menerima vaksin jadi maupun bentuk baku (bulk), sebanyak 77 tahap mulai dari 6 Desember 2020 lalu, hingga 23 September 2021 kemarin. Terhitung dosis vaksin yang telah diterima mencapai 271,6 juta dosis. Vaksinasi pun telah dilaksanakan di seluruh wilayah di Indonesia hingga ke daerah-daerah terpencil.

Banyaknya masyarakat yang telah menerima vaksinasi, menyebabkan semakin besarnya kemungkinan pandemi akan segera berakhir dan keadaan dapat kembali normal. Hingga saat ini pun, sudah cukup banyak sekolah yang telah melakukan pembelajaran dengan tatap muka. Sehingga kemungkinan besar nantinya perkuliahan offline juga akan dapat dilaksanakan.

Mendengar rumor atau isu terkait akan kembali dilaksanakannya perkuliahan tatap muka ini, kembali menjadi sebuah dilema bagi mahasiswa. Berdasarkan riset yang dilakukan melalui wawancara terhadap beberapa mahasiswa, pada dasarnya banyak mahasiswa yang mengharapkan bisa kembali melakukan kuliah offline. Namun, tidak sedikit juga mahasiswa yang merasa berat untuk kembali kuliah offline karena telah nyaman kuliah online. Bagaimana tidak? Kita tidak perlu pergi ke kampus untuk menghadiri perkuliahan, kita tidak perlu takut terlambat atau terkena macet di perjalanan, dan kita bisa kuliah dimana saja. Dengan begitu, kita bisa menghemat biaya transportasi. Kita juga tetap bisa kuliah sambil mengerjakan pekerjaan lain.

Sisi positif lainnya yang dapat dirasakan adalah banyak sekali waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Seperti menghabiskan waktu bersama keluarga yang dapat memperkuat rasa kekeluargaan, mencoba hal baru yang mungkin dulunya belum sempat dicoba, dan banyak juga yang membuka usaha baru serta menghasilkan uang selama pandemi. Hal-hal tersebut sudah berjalan hampir dua tahun dan akhirnya membuat banyak mahasiswa merasa betah kuliah online.

Apabila kuliah offline kembali dilaksanakan, maka mahasiswa harus kembali beradaptasi dengan kebiasaan baru namun lama. Dilema ini sangat dirasakan terutama bagi mahasiswa dari daerah yang sudah terbiasa kuliah di kampung. Karena jika kuliah offline maka mereka harus kembali merantau dan jauh dari orang tua. Selain itu, kebingungan ini juga dirasakan oleh mahasiswa baru yang belum pernah merasakan kuliah offline. Mereka jadi harus lebih banyak beradaptasi karena akan mengalami perubahan yang cukup signifikan di dunia perkuliahan dari online ke offline.

Namun di samping itu, banyak juga hal yang dirindukan oleh mahasiswa saat kuliah offline. Kita bisa menghabiskan waktu bersama teman, mengerjakan tugas bersama, belajar bersama dan tentunya lebih produktif. Kuliah juga lebih seru dan tidak membosankan dibanding saat kuliah online. Bagi mahasiswa keduanya memiliki sisi positif dan negatifnya sendiri sehingga itulah yang membuat mahasiswa merasa dilema antara kuliah online atau offline.

Sumber

admin sanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *