“Mahasiswa: Bersatu dan Bergeraklah untuk Kemanusiaan dan Lingkungan”

Dewasa ini Palestina menjadi pusat perhatian seluruh negara di dunia ini. Hal itu disebabkan oleh serangan Israel. Keganasan itu mengakibatkan jeritan tangis seorang anak yang kehilangan orangtuanya, jeritan hati seorang perempuan yang ditinggalkan suaminya. Konflik dua negara itu hampir satu abad tidak selesai. Beberapa alasan banyak negara menunjukkan solidaritasnya terhadap Palestina adalah kemanusiaan dan kemerdekaan. Konflik itu semakin memuncak ketika diasosiasikan oleh kepentingan keagamaan.

Situasi mencekam seperti itu membangunkan naluri kemanusiaan bangsa Indonesia. Mulai dari Jawa, Suamtera hingga Papua menunjukkan solidaritas untuk membela Palestina. Agama bukan alasan untuk kita tidak mengecam tindakan-tindakan yang tanpa nilai kemanusiaan tersebut di atas.

Semangat perjuangan atas dasar prinsip-prinsip kemanusiaan dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia, terlebih mahasiswa dengan spirit idealisme dan perjuangannya. Harapan sepenuhnya ada pada kalian yang statusnya sebagai elite masyarakat, pemikir, penggerak dan pembaharu di dunia ini. Kami merindukan sosok Wiji Thukul, Munir, WS Rendra dan aktivis perempuan seperti Marsinah yang namanya selalu dikenang karena semangat perjuangannya.

Kalian para mahasiswa!! Penulis dengan bangga mengatakan bahwa kalian adalah para pejuang ummat (kemanusiaan) dan bangsa. Kembalilah berjuang seperti senior-senior terdahulu, mereka yang rela mati hanya untuk membela kaum tertindas dan memperjuangkan hak-hak rakyat serta mengutamakan kepentingan ummat.

Tidak semua pemuda bisa menjadi mahasiswa, namun hal itu jangan dijadikan alasan untuk kalian merasa lebih tinggi dari yang lain. Kalian diberikan kesempatan untuk menggunakan suara dengan untuk dan atas nama mereka yang tidak mampu bersuara. Sudah waktunya mahasiswa kembali memikirkan hal-hal menyedihkan di dunia ini, seperti tentang kemanusiaan yang tidak ada nilainya dihadapan Israel.

Kita suarakan tentang kesamaan hak untuk hidup, tersenyum, tertawa dan berkumpul dengan keluarga. Berjuang tentang kesetaraan gender, menumpas rasisme, kemanusiaan, kemiskinan dan perjuangan menegakkan keadilan. Perjuangkan hak-hak lingkungan, tumpaskan pandangan egosentris yang menganggap manusia di atas segalanya, apalagi tentang otoritas kebenaran suatu agama.

Oleh karena pandangan itu kemudian kita membenarkan diri mengeksploitasi alam dengan sumber dayanya. Laut dan sungai sudah tidak memiliki ikan, hutan tanpa pohon, gunung diratakan, sawah ditanami beton, masihkah Mahasiswa diam? Kembalilah ke jalur perjuangan kemanusiaan dan lingkungan.

Pembelajar dan pejuang terbaik adalah mereka yang menggunakan cinta dan kasih sayang sebagai prinsip hidup. Kita bisa membuat, mengembangkan dan mengimplementasikan sistem perubahan yang bermanfaat bagi semua makhluk dan lingkungan sekitar. Manusia atau kelompok akan menjadi benalu ketika egois, terkadang kejam, tidak mau kerja sama.

 

Sudah saatnya kita kembali untuk saling dukung, bukan kita saling hakimi karena cerita atau kesalahan masa lalu. Saling bantu untuk tumbuh, saling didik dan saling bimbing menuju keselamatan bersama. Itulah yang terbaik dari seorang pembelajar dan pejuang dengan nilai kemanusiaan yang tinggi.

Israel membuat Palestina merasakan kekejaman, keganasan, kesedihan dan penderitaan. Maka, hal itu menjadi sebab kenapa kita harus mengutamakan solidaritas dan naluri kemanusiaan kita harus dikembalikan. Kita patut bertanya, sampai sejauh mana kita atau kalian mahasiswa memberikan manfaat kepada masyarakat ketika situasi seperti ini? Mahasiswa adalah manusia biasa yang menjadi bagian dari manusia lainnya, yang saling membantu satu sama lain dan menjunjung tinggi solidaritas. Sebagai elite dari masyarakat seharusnya mahasiswa menjadi para inisiator, konseptor dan atau bahkan sekaligus sebagai aktor.

Melihat keadaan Palestina sekarang ini, seharusnya kasih sayang dan kepedulian antar sesama haruslah menjadi dasar atas setiap tindakan sosial. Ibn Khaldun yang merupakan filsuf Islam dalam karya fenomenalnya Muqaddimah, menjelaskan tentang konsep Ashabiyyah (saling menjaga dan melindungi). Ketika diperlakukan tidak adil, disakiti, atau mengalami musibah, masyarakat harus menunjukkan empati dan solidaritas yang kuat terhadap sesama. Jika satu kelompok merasakan sakit, maka kelompok lain juga merasakan hal sama. Kelompok-kelompok dalam masyarakat diibaratkan organ dalam satu tubuh. Kepentingan dan untuk atas nama kemanusiaan harus berada di atas kepentingan sosial kelompok.

Mahasiswa seharusnya merasa terpanggil untuk kembali menumbuhkan sikap kepedulian sosial. Karena pada dasarnya manusia hidup secara bersama-sama dan saling membutuhkan satu sama lain. Memikul beban sendirian tentu akan terasa berat. Maka sebisa mungkin kita harus bersama-sama mengulurkan tangan dan membantu sesama. Bantuan berupa apa pun pasti tetap bernilai dan dapat meringankan beban.

Doa dan harapan kepada Palestina di bulan Syawal ini akan menjelma menjadi kekuatan yang dapat membangkitkan mereka dari keterpurukan. Kejamnya Israel yang meluluhlantahkan seluruh bagian kota yang ada di Palestina. Kehidupan mereka dibayang-bayangi oleh serangan Israel, kita terkadang bertanya kapan ini akan berakhir? Kapan cinta dan kasih sayang tersebar merata ke seluruh dunia, hingga tidak ada peperangan, kelaparan, kemiskinan, diskriminasi, penyerangan dan masalah kemanusian serta lingkungan lainnya? Jawabannya adalah, semua kembali ke manusia. Ketika berhenti menindas sesama, mewujudkan solidaritas, kepedulian sosial dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Demi dan untuk atas nama kemanusiaan, kita sebagai manusia yang sadar dan merdeka memiliki kewajiban moral untuk meneriakkan serta mendukung penghentian kekejaman Israel terhadap Palestina. Anak-anak, perempuan dan warga dunia secara umumnya memiliki hak yang sama untuk hidup tenang, nyaman, aman, damai dan tenteram disertai dengan fasilitas lingkungan yang menopang keberlangsungan hidup manusia.

Sumber

admin sanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *