CATATAN KECIL DIES NATALIS 62 TAHUN STISIP WIDURI

Tagline ini terlintas dengan cepat dalam pikiran, tepat pada akhir malam september ceria. Rasanya bangga, dapat berdiri dan merasakan kenikmatan berkah Tuhan YMK untuk mensyukuri 62 tahun kampus yang tetap bertahan ditengah gelombang perkembangan teknologi dan digitalisasi. Tampak rapuh, namun tetap bersahaja. Tampak
lemah, namun tetap menopang mereka yang haus akan intelektualitas. Tampak kusut, namun tetap diharapkan masukan & pemikirannya bagi komunitas dan bangsa.

Sebagai Alumni, saya tidak pernah malu telah mengenyam pendidikan di STISIP Widuri. Saya berdiri saat ini, merupakan buah dari polesan yang memperkokoh kerangka cakrawala berpikir, memperkuat kualitas kompetensi sebagai praktisi, dan menjadi pemimpin yang mampu melayani dengan ketulusan dari hati. Terima kasih kepada seluruh dosen yang telah membimbing dan mendukung.

Sebagai Senior GMKI, Cabang Medan merupakan salah satu cabang terbesar & berpengaruh di Indonesia. Saya bangga bahwa keluarga Radius Prawiro tetap komit menjunjung tinggi Amsal kebesaran yang masih bergema hingga detik ini. Tinggi Iman, Tinggi Ilmu dan Tinggi Pengabdian. Banyak perjalanan yang saya lakukan, masih segar dan harum nama Abangda Radius Prawiro diberbagai wilayah Nusantara. Baik sebagai pemikir ekonomi, sebagai pelayan yang mengabdikan diri bagi banyak gereja dan Perguruan Tinggi. Tentu saja Kanda Leony Supit, melengkapi seluruh pelayanan itu menjadi sebuah karya hebat Widuri yang tulus bagi Sang Kepala Gerakan, Tuhan Semesta Alam. Terima kasih saya sampaikan kepada seluruh keluarga besar Radius Prawiro & Leony Supit.

Sebagai Ketua III DPP IPSPI, Asosiasi Profesi Pekerja Sosial yang memimpin para pekerja sosial di seluruh Indonesia, turut berbahagia. Bagi kami STISIP Widuri bukan sembarang kampus. Sebagai salah satu pelopor pendidikan dan pengembangan pekerjaan sosial di Indonesia. Masih jelas dalam kenangan kami, Widuri menjadi sekutu yang tidak pernah abstain dalam memberikan masukan, kritik, dan pembaharuan ide dalam pengembangan pendidikan dan profesi pekerja sosial. Kami merindukan, kisah hebat dimasa lalu dimana banyak pakar dan ahli pekerjaan sosial merasa nyaman dan bahagia ketika berada di Widuri baik dalam bingkai kolaborasi ide maupun karya. Terima kasih atas segala kenangan, kami menunggu dan terbuka sebagaimana widuri menunggu dan terbuka kepada kami sejak 62 tahun silam. Saya yakin, para pendiri dan pengembang Widuri bersama para senior pekerja sosial Indonesia yang telah mendahului kita, haru dan bangga melihat mimpi, harapan, dan keinginan mereka tetap hidup, menjadi terang dan garam bagi dunia saat ini yang jauh dari adil dan sejahtera.

Bapak dan Ibu yang saya hormati, Widuri merupakan sebuah mahakarya anak bangsa yang telah menjadikan mimpi para orangtua agar anaknya menjadi sarjana dan hidup lebih baik dari orangtuanya serta mengubah hidup banyak orang yang semula biasa saja dan menjadi berguna ditempat mereka masing-masing. Sudah saatnya Widuri memperkokoh kembali tiang penopang visi besarnya, membangun kembali ruang-ruang intelektualitas, inovasi dan pembaharuan yang tetap menjaga api pekerjaan sosial tetap menyala. Percayalah, Tuhan tidak akan meninggalkan Widuri sendirian. Ijinkan saya menutup dengan mengingatkan yang disampaikan Nabi Yeremia di Yehuda pada tahun 626-586; “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

Widuri (For Humanity and Country).

Jakarta, 1 Oktober 2022
M. Ifan (Ketua DPP IPSPI & Founder Social Work Sketch)

admin sanda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *